"TENTANG NADA"
Malam
ini ku yakin malam yang sejuk, tak terlalu dingin, tak juga panas
menggangu,
tapi mata ini tak juga lekat-lekat, bukan mengatup semalaman. Dalam cuaca ini
ku yakin semuanya sudah lelap, tinggal aku yang gelisah. Detakku tak mengalah
dari detak tuan waktu, entah apa yang ditatapnya, tatapannya kian dalam dan
kurasa kian tajam membidik bola mataku.
Hal
pertama pasti meninggalkan bekas. Kini, ku hanya dapat membenarkan
lagi
pernyataan itu. Aku terlalu takut untuk terlelap. Ku takut kegelisahanku ini
menyekapku lirih dalam jeruji mimpiku sendiri. Bukan karna ranting botak jahil
yang mengetuk kaca jendela berembun kamar biru yang kan banyak menghabiskan
waktuku bersamanya. Bukan juga dengan nyanyian cicak yang terkadang lupa diri,
menyanyi diwaktu lelap semuanya. Apalagi karna daun yang begesekan dimainkan
angin malam yang mendesir dengan dinginnya.
Entah apa yang kan
terjadi pada diriku nantinya?
***
Kurasa
ku benar-benar bangun pagi itu. Jendela yang masih menyimpan
embunnya
yang mulai jenuh, membangunkanku dengan sekeping cerapan dari mentari,
menyajikan bagian indah hidup yang menggugah. Kelopak bunga yang mekar karna
sinar mentari yang hangat membiusku dan mentari tersebut tak lupa menyapaku
hangat dalam rangkulnya. Tentu saja hanya sebagian kecil yang tercerminkan dari
kaca jendela kamarku yang biru.
Sayupku
beranjak dan melangkah. Lunglai tanda masih mabuk pembaringan.
Mendesir
hangat, suara bidadari itu sempit terdengar didaun pintu. Derit cerap pintu
menutup sedikit nada itu. Nada itu kian beranjak dan terpampang jelas pada
langkahku yang ketujuh.
“
Yah, tidakkah kau salah memilih tempat ini? lingkungan ini sepertinya tak
tampak
begitu kondusif ? ” Aku menatap dalam
bidadari kesayanganku itu dengan wajahnya yang bersinar diterpa sinar mentari.
Mentari pun tahu mana wajah mereka yang patut disinari dan menjadi sangat indah
diantaranya.
“
Tak kondusif bagaimana? ” Hahaha. Cahaya
itu juga tahu, wajah ayah juga
harus
dibuat bersinar, wajah ayah memang butuh lightning
untuk menunjuk jelas keriput kerja kerasnya.
“
Tidak kah kau dengar yah? pagi-pagi yang membangunkan kita, bukanlah
ayam,
tapi thaiji-thaiji[1]
tetangga kita. Aku yakin ia memanggil anaknya, tetapi tidakkah ia
sadar, tidak hanya dia yang tinggal disini? ehmm... orang yang seperti itu, ku
yakin pasti orang yang egois! tak memikirkan orang lain ........” Ibu memang
begitu. ketika ia bercerita tentang
apapun, ia akan jadi sangat ekspresif. Dia akan tampak sangat lucu, wajahnya
berubah beriringan dengan bola mata nya yang kadang kadang tampak berputar. Ibu
... ibu .... aku menyayangi sosoknya begitu dalam.
“
Alah.... bu, Cuma itu ... mungkin dia belum tau ada kita bu, jangan suka
menyimpulkan
sifat orang bu, kita belum kenal, jangan
menyimpulkan tentang orang itu .” Didepan
kamarku, ku nyaris tertawa melihat kumis bapak yang tipis berjoget naik turun,
alisnya yang bergetar bahkan hidungnya yang kembang kempis. Ya ... dia akan
selalu jadi ayahku.....
“
Bapak
bilang Cuma itu? nih, ibu cerita lagi yahh.... Tadi pagi ibu ketoko
yang
disebelah lainnya rumah kita, toko itu dijaga oleh sepasang urang cin[2]
. Di toko itu, ibu tidak dilayani, ibu dibiarkan menunggu begitu saja,
sedangkan mereka sibuk melayani sesama mereka. Ibu masih menunggu sampai
pembeli disitu tinggal ibu, tapi apa? udah nunggu lama, dilayani pakai muka
masam, belanjaan ibu dijatuhin lagi ..... ckckckck.... Memang begitu yah orang
disini? “ Cerita ibu panjang lebar. Kini
diriku tak sempat lagi memikirkan hal-hal lucu tentang mereka. Aku terlanjur
mendengarnya dan itu semua kembali menguncang diriku yang kini diam kaku.
Apakah
kota ini akan menjadi sama dengan kota asalku? atau malah lebih buruk?
“
Hoy nad ....... sudah lama bangun? kok gak gabung ke ayah dan ibu sih, ayok
sini
makan ..... Ibu sudah masak nasi goreng kesukaan kamu untuk hari pertama kita
disini .” Diriku tetap diam tetapi tak lama, karna diamku mancair. Hangat
sangat rangkulnya pagi itu, sehangat itukah rasa sayang ibuku padaku ? Aku tak
ingin melepaskannya. Aku takut beku kembali karna gelisah.
“
Iya nad, ayo sini, ikuti perkataan ibumu, jika tidak ..... ia akan marah-marah
tak
jelas. hahahahha . ” Ayah memang begitu,
ia selalu ingin menenangkan semuanya. Ia memang ayahku. Meskipun masalahnya
besar, ia akan membuat kami seperti tak ada masalah. Ayah, kau telah
melepaskanku dari penjara beku ku tadi. Meskipun masih berasa dingin, tapi tak
apa, ku tahu ada ibu dan ayah yang kan selalu hangat bagi jiwaku.
Penjara bekuku terbuka deritnya, membiarkanku
keluar bebas. Bebas ini
menjadikanku
terlalu penyepi. Pikiranku jadi liar pemberontak, sibuk menerwang menerka apa
yang kan terjadi nantinya. Dalam ruang ini ku sendiri menjelajah. imaji ku
berontak terlalu liar, membawa ku dalam setiap layar yang memberiku
suguhan-suguhan yang mungkin akan kuterima nanti. Ku lihat beberapa layar
menunjukan tangisan ku yang bedebah dan satu layar gelap yang telah habis memutar
akhir bahagia tentang aku. Kini semuanya tinggal tangisan yang ku benci. Ku
suka tertawa, tertawa bebas menyeruak, tapi mungkin, kini ku tak bisa. Aku
merindukan semua tawaku yang kian dikikis angin waktu. Ketika mataku menutup
banyaknya rapat, yang terdengar hanya tangisan cengeng dari gadis penakut
dilayar-layar itu.
Apakah air mata dapat habis? Mungkin akulah
yang akan menghabiskannya pertama kali!
***
“
Assalammualaikum......... Assalammualaikum..........Permisi..........” Ritme
ayah
kian naik, meskipun terdengar masih halus.
“
Oii, tunggu. Mau apa kalian disini? “ Nada wanita itu timbul bersamaan
dengan
wajahnya yang bagiku rada tak terlalu enak dipandang karna masamnya.
“
Kami tetangga sebelah, kami baru pindah kemarin. Kami hendak silaturahmi
ke
tetangga-tetangga ....... ” Ku yakin ayah sibuk mengolah kata, ia takut salah
kata sehingga nanti merusak suasana. Ayah selalu begitu.
“
Buat apa lah? Lagian, kalian fan ngin[3]
kan? Tidak usah susah-susah masuk.
Anak
ku sedang bermain. Hilang satu mainan anakku, tidak siapa-siapa yang tahu. ” Diriku
mulai membenarkan kata ibu. Thaiji itu
memang tampak egois sekarang. Ku lihat wajah merah merendam api di air muka
ayahku itu. Aku tahu maksud dari sosok gempal itu. Ia ingin bilang orang agama
kami suka mencuri.
Ayah
hanya bisa meredam api itu lewat air mukanya. Ia tak ingin merusak awal
yang
bergulir tak enak. Aku mengamati setiap riak air mukanya sejenak, tapi ayahku
memang pria yang kuat. Dalam beberapa detak, ia kembali menenangkan air mukanya.
“
Kami hanya ingin berkunjung bersilaturahmi. “ Jawabnya singkat tanda sisa
panasnya.
“
Ehmm. Kalau kalian ingin, masuk lah. “ Entah wajahnya yang selalu bagitu
atau
hanya pada kami ia tunjukan air mukanya yang asam. Sosoknya sedikit kumal,
mungkin ia belum mandi pagi ini atau mungkin ia masih sibuk bekerja setelah mandinya.
Ia memang jauh berbeda dari ibuku. Aku ingin memeluk ibuku kala itu,
bersembunyi dibelakangnya, rumah ini seram mengguncang.
Dalam
rumahnya yang berkeramik biru langit, ku lihat mainan berserakan
mozaik.
Dimeja dekat televisi besar tua, ku lihat anak gadis yang berisi berbalut merah
bergempal pipi termangu menatap kami. Ibu anak itu kembali kehadap kami,
menyidang air yang malah mengepel lantainya yang biru dengan aksen relief.
“
Eh ... eh maaf, airnya tumpah .... “ Kurasa itu bukan suatu permintaan maaf,
ia
tersenyum untuk menutup kata. Ayah hanya bisa berdiri mencoba mengelap wajahnya
yang terciprat.
Ayahku kembali diam
detaknya.
“Iya
.... iya ... tak apa, tak apa apa, tidak usah repot repot. “ Wajah nya merah
lagi,
ia menghambur keluar untuk bernafas dan akhirnya kembali duduk, dikursi
sebelahnya.
Nada
rumah itu kehilangan jejak dan anak gadis yang kulihat tadi mulai mengalun
sedikit nada.
“Satu.....
Dua .. Tiga .....” Ia berhenti diangka itu, mungkin ia tak tau apa
selanjutnya.
Kulihat ia diam sebentar dan kembali menatap lekat ke arahku. Aku tak tahu apa
yang ia bidik lemah busur matanya. tak lama ia lepaskan bidikan kosong. ia
kembali menunjuk nada.
“
Satu .... Dua .... Tiga ...” Mungkin ia hanya tahu sampai disitu.
Ayah melihat Segala perhatianku. Ia mendorong
ku lembut dan ku berbalik
menempu
matanya. Langkahku sayup dilantai mereka yang biru. Mendekati sudut meja yang
membeku debu. ia tak menyadariku.
“Satu......
Dua ...... Tiga ...... Empat ..... Lima ........” Aku yakin mengucapkannya
jelas.
Nada ku mengalun rendah dengan ritmeku yang gugup.
Anak
itu menatapku lebih dalam dengan beku hitam matanya. Apakah aku
melakukan
suatu kesalahan? Ibu anak itu kulihat masuk ke ruang ini, yang kini sepi
dinginnya.
“
Apa yang kau katakan ce[4]
? Apa kamu tidak bisa berbicara dengan jelas?
Kamu
sudah lebih besar daripada aku, kok tidak bisa ngomong jelas sih? “ Ucap anak
itu perlahan tapi pasti. Kata itu yang membuatku ingat dengan memoriku beberapa
detak jarum lalu. Aku punya kekurangan itu ..... Apakah semua kan jadi seperti
yang ku bayangkan?
Memori
membawa ku pada detak lalu dikota asalku. Setiap ku menyepi sendiri .
Melintas
keramaian kota dengan mata yang sembab basah yang serasa menghambur keluar dari
tempatnya. Kadang, aku terlalu takut untuk keluar tapi itulah adanya. Setiap
bertemu mereka yang sebaya, mereka yang mengenalku, ia akan memanggilku dengan
“
Si bisu “ .
Siapa
yang tak akan menangis? Aku dihina karna kekuranganku. Siapa yang
ingin
memiliki semua ini? Jikalau aku boleh memilih, aku akan memilih menjadi sama
dengan kalian! Ku sadari air bening bersih itu kembali membuncah di kelopak.
Ia
mendesak terlalu keras sehingga merusak warna mata yang putih melati membuatnya
terbias aksen merah.
Aku
terlalu takut untuk kembali mendengar hinaan-hinaan itu lagi. kakiku yang
terlelap
sayup biasanya, kini ku bawa berlari terbang. Aku menembus angin yang serasa
menahanku kembali kepelukan ibu.
“
Ibu..... Ibu .... Ibu ..... “ Teriak ku sebisanya. Tapi apa daya si bisu ini.
Meskipun
berteriak memutus pita suaranya, tak kan ada yang mendengarnya jelas. Aku masuk
kerumah, mencari-cari sosok itu. Tapi lenyap tak ku temukan. Setiap bagian dari
inchinya telah ku sisir, tapi belum
genap ia muncul.
“
Ibu ..... Ibu ...... “ Nadaku melemah. Kembali menangis sejadi-jadinya. sendiri
tanpa
sosoknya. Meraung jiwa yang lemah. Mencekam susana punggung rumah.
Tangisanku
mengisi setiap hening rumah itu. Kini daku kembali beriring lemah. Berhenti
mencari, teriakanku menghunus langit-langit rumah dengan debunya yang masih
bergantung, debu-debu kusam .
“
Iyah nak .... Nak .... Bangun ... Bangunnn ..Ayoo Bangun..... Ada Tamu ...... “
Suara
halus itu kembali terdengar oleh ku. Membawaku tenang dan akhirnya mataku
terbuka bebas aslinya.
Semuanya
belum dimulai. Hari masih pagi. Sinar emas mentari masih
membias
dibayang embun kaca jendela. Banyak mata disini. Mata indah ibu. Mata ayahku
yang gelap menggugah. Mata wanita yang belum pernah kulihat. Matanya mengkilap
tersenyum. Dan yang terakhir ku tatap, mata gadis kecil sebaya yang menenangkanku
dari mimpi buruk yang nyaris mengguncang kejiwaanku. Apakah semuanya kan
berbeda dengan kisah dari alam mimpi? Aku mengharapkannya ..... bahkan kini
terlalu dalam mengharapkannya.
“
Ce, kami bawa ini untuk ace, semoga ace suka. Mungkin sederhana, tapi
dijaga
ya ce. ” Manisnyaa..... Ia memberikanku sebuah boneka.
Aksen bulunya yang menyeruak menyentuh tanganku lembut. Ini memang menjadi
sebuah awal. Awal yang manis. Mungkin aku tak bisa mengucapkan terimakasih. Tapi
pelukan hangat ini, anggap saja terima kasihku atas awal yang selalu kuharapkan.
Sungailiat , 22 Agustus 2017
[1]
Thaiji-thaiji : panggilan masyarakat keturunan tionghua di bangka untuk
seseorang yang lebih tua daripada ibu .
[2] Urang
cin : panggilan masyarakat melayu bangka untuk masyarakat keturunan tionghua di
bangka .
[3] Fan ngin
: julukan untuk masyarakat melayu bangka .
[4] Ce :
panggilan masyarakat keturunan tionghua di bangka untuk perempuan yang lebih
tua .
tinggalkan komentar dan berbagi dengan teman-teman anda tentang hal ini. terima kasih .


Komentar
Posting Komentar